Langsung ke konten utama

MATERI PEMBELAJARAN KIMIA UNSUR PERIODE 3 dan PERIODE 4

 

MATERI PEMBELAJARAN KIMIA UNSUR

Unsur-Unsur Periode 3


Unsur – unsur periode ketiga terdiri dari logam Natrium (Na), Magnesium (Mg), Aluminium (Al); semi logam: Silikon (Si); dan non logam: Fosfor (P), Belerang (S), Klorin (Cl), Argon (Ar). Unsur periode ketiga umumnya berada di alam dalam bentuk senyawanya. Pengecualian adalah S yang ditemukan dalam bentuk unsur dan senyawa, dan Ar yang berada dalam bentuk unsur saja.

Pada periode ketiga dalam sistem periodik, terlihat bahwa paling kiri adalah unsur logam yang semakin kekanan berubah menjadi semi logam dan non logam. 

Tabel 1.1 Kelimpahan Unsur Periode 3 di Kulit Bumi


A.    Sifat Fisis Unsur – Unsur Periode Ketiga

Sifat fisis unsur periode ketiga dapat kita pelajari kecendrungannya dengan menggunakan data sifat atomik dan struktur unsurnya. Simaklah tabel berikut ini!

 

Tabel 1. Sifat Atomik Unsur - Unsur Periode Ketiga

Sifat Atomik

Na

Mg

Al

Si

P

S

Cl

Ar

Jari – jari atom

190

160

118

111

102

102

99

98

Energi ionisasi

496

738

578

789

1013

1000

1250

1520

Afinitas elektron

-52,8

>0

-42,5

-134

-72,0

-200

-349

>0

Keelektronegatifan

1,0

1,2

1,5

1,8

2,1

2,5

3,0

-

Bilangan oksidasi (maksimum)

+1

+2

+3

+4

+5

+6

+7

-

Dari tabel, terlihat adanya keteraturan sifat atomik dari Na ke Ar yang secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut

1.        Nilai jari – jari atom berkurang dari Na ke Ar

Hal ini dikarenakan unsur – unsur dari Na ke Ar memiliki jumlah proton dan elektron pada inti semakin banyak. Hal ini mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti atom dengan elektron-elektronnya semakin kuat. Oleh karena itu jari-jari atom unsur-unsur perioda ketiga dari kiri ke kanan semakin mengecil.

Jari – jari atom adalah jarak antara kulit inti atom samapai kulit terluar yang ditempati elektron

2.        Nilai energi ionisasi bertambah dari Na ke Ar, penyimpangan terjadi pada Mg ke Al dan dari P ke S.

Energi Ionisasi adalah energi yang dibutuhkan untuk melepaskan satu elektron pada kulit terluar yang terikat lemah ke inti dalam fasa gas.

Peningkatan energi ionisasi ini berkaitan dengan bertambahnya muatan inti, sehingga daya tarik inti terhadap elektron terluar makin kuat, sehingga energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron pada kulit terluar semakin besar.

Data dari gambar juga menunjukkan adanya penyimpangan, yaitu energi ionisasi Mg lebih besar dari energi ionisasi Al, dan energi ionisasi P lebih besar dari S.  Penyimpangan ini terkait dengan kestabilan konfigurasi elektron, yaitu unsur golongan IIA (Mg) dan golongan VA (P) mempunyai konfigurasi elektron yang relatif stabil, yaitu konfigurasi penuh dan setengah penuh sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk melepaskan elektronnya. Sedangkan Al dan S mempunyai satu elektron yang terikat agak lemah sehingga lebih mudah dilepaskan.

3.         Nilai Afinitas Elektron bertambah dari Na ke Cl, dengan penyimpangan nilai untuk Al dan P. (abaikan tanda negative pada nilai afinitas elektron, yang berarti energi dilepaskan).

Afinitas elektron adalah energi yang terlibat pelepasan energi (-) / penyerapan energi (+) jika suatu atom / ion dalam fasa gas menerima satu elekron membentuk ion negatif. Peningkatan afinitas elektron ini berkaitan dengan muatan inti yang semakin positif dan jari – jari atom semakin kecil. Keadaan ini menyebabkan gaya tarik menarik antara inti dengan elektron yang ditambahkan semakin kuat sehingga afinitas elektronnya bertambah.

4.        Nilai keelektronegatifan bertambah dari Na ke Cl.

Keelektronegatifan adalah : suatu ukuran kemampuan suatu atom untuk menarik elektron dalam suatu ikatan kimia. Dari kiri ke kanan (Na ke Cl) keelektronegatifan unsur - unsur semakin besar, karena muatan inti bertambah positif dan jari – jari atom berkurang, keadaan ini ini menyebabkan gaya tarik menarik inti terhadap elektron semakin kuat, akibatnya kemampuan atom untuk menarik elektron semakin besar.  Hal ini juga memperlihatkan semakin kekanan unsur periode ketiga semakin mudah menarik elektron.

Unsur-unsur dengan keelektronegatifan kecil cenderung bersifat logam (elektropositif). Sehingga sifat logam dari Na ke Ar semakin berkurang karena nilai keelektronegatifannya semakin besar.

5.        Bilangan oksidasi maksimum bertambah dari Na ke Cl.

Selanjutnya, simaklah bagaimana sifat atomik mendasari kecendrungan sifat fisis unsur – unsur periode ketiga:

Tabel 2. Sifat Fisis Unsur - Unsur Periode Ketiga

Sifat Atomik

Na

Mg

Al

Si

P

S

Cl

Ar

Fase

padat

padat

padat

padat

padat

padat

gas

gas

Kerapatan (kg/m3)

970

1.740

2.702

2.330

1.820

2.070

3,214

1,78

Kekerasan (Mohs)

0,5

2,5

2,75

6,5

-

-

-

-

Titik Leleh (0C)

98

649

660

1.410

44,1

115

-101

-189

Titik Didih (0C)

883

1.107

2.519

3.280

277

444

-35

-186

ΔHvus (kj/mol)

2,60

8,95

10,79

50,55

0,657

1,718

5,9

1,19

ΔHvus (kj/mol)

97

127

293

359

12,1

9,8

10,2

6,45

Daya hantar listrik (MΩ-1cm-1)

0,210

0,226

0,377

<< 

<< 

<< 

-

-

Daya hantar panas (W/cmK)

1,41

1,56

2,37

1,48

0,00235

0,00269

0,00009

0,00018

 

Dari data pada tabel diatas, dapat kita amati secara umum keraturan sifat fisis unsur periode ketiga sebagai berikut:

1.      Kerapatan bertambah dari Na ke Al, lalu berkurang dari Al ke Ar

Kerapatan adalah : perbandingan antara massa atom – atom dengan suatu unit volum yang ditempatinya.

Nilai kerapatan bergantung pada massa atom, jari – jari atom. Semakin besar massa atom maka jari – jari atom akan semakin kecil, karena kekuatan tarik menarik antara inti atom dengan kulit terluar semakin kuat, sehingga menyebabkan kerapatan dari Na ke Al semakin besar (ikatan logam). Nilai kerapatan semi logam Si tinggi terkait dengan kekeuatan ikatan kovalennya dalam struktur kovalen raksasa. Selanjutnya variasi nilai kerapan non logam P sampai Ar terkait dengan kekuatan gaya London S > P > Cl > Ar.

2.      Kekerasan bertambah dari Na ke Si

Kekerasan adalah : resistansi terhadap goresan / penetrasi permukaan bahan. Pertambahan kekerasan dapat dijelaskan dari kekuatan ikatan logam yang meningkat dari Na ke Al, dan kekuatan ikatan kovalen pada Si.

3.      Titik Leleh dan ΔH fus bertambah dari Na ke Si, lalu berkurang dari Si ke Ar.

Titik leleh adalah : suhu dimana tekanan uap zat padat sama dengan tekanan uap zat cairnya.

Perubahan kalor leleh (ΔH fus) : menunjukkan energi yang diperlukan untuk mengubah 1 mol padatan menjadi 1 mol cairan pada titik lelehnya.

Kenaikan titik leleh dan ΔH fus dari Na ke Si dijelaskan dengan kekuatan ikatan logamnya yang meningkat dari Na ke Al, dan kekuatan ikatan kovalen pada Si. Sedangkan kecendrungan penurunan titik leleh dan ΔH fus dari Si ke Ar terkait dengan variasi kekuatan gaya London S > P > Cl > Ar.

4.      Titik Didih dan ΔH v bertambah dari Na ke Si, lalu berkurang dari Si ke Ar.

Titik didih adalah : suhu dimana tekanan uap zat cair sama dengan tekanan disekitarnya.

Perubahan kalor didih (ΔH v) : menunjukkan energi yang diperlukan untuk mengubah 1 mol zat cair menjadi 1 mol gas pada titik didihnya.

Kenaikan dan penurunan titik didh serta ΔH v dapat dijelaskan seperti halnya kecendrungan titik leleh dan ΔH fus

5.      Daya hantar listrik dan daya hantar panas logam Na, Mg, dan Al lebih baik dibandingkan semi logam Si dan non logam P,S,Cl,dan Ar.

Daya hantar listrik berkaitan dengan pergerakan muatan listrik karena pengaruh pergerakan elektron bebas.

Daya hantar panas berkaitan dengan jumlah partikel untuk meneruskan energi kinetic ke partikel lainnya.

·      Logam Na, Mg, dan Al memiliki daya hantar listrik dan panas yang baik karena memiliki elektron valensi dalam ikatan logamnya dapat bergerak bebas.

·      Semi logam Si memiliki daya hanatar panas dan listrik yang cukup baik disbanding non logam karena ikatan kovalen dimana elektron – elektronnya terikat ke inti atom.

·      Non logam P,S,Cl, dan Ar tidak memiliki daya hantar listrik karena struktur unsurnya tidak memiliki elektron bebas. Dan memiliki daya hantar panas karena pengaruh melemahnya kekuatan ikatan London sehingga partikel menjadi mudah bergerak.

B.     Sifat Kimia Unsur – Unsur Periode Ketiga

Sifat kimia unsur periode ketiga dipelajari dengan menggunakan data sifat atomik dan konfigurasi elektronnya.

1.    Kereaktifan

Kereaktifan untuk unsur periode ketiga diperhatikan dari mudah tidaknya unsur – unsur melepas atau menyerap elektron ini dapat dipahami dari kecendrungan nilai energi ionisasi dan afinitas elektronnya. Kecuali Ar dapat memiliki konfigurasi elektron gas mulia dengan cara melepas atau menyerap elektron dari atom lain.

·   Nilai energi ionisasi : bertambah dari kiri kekanan, yang berarti lebih mudah bagi unsur – unsur disebelah kiri untuk melepas   elektron.

·     Afinitas elektron : semakin negatif dari kiri kekanan, yang berarti semakin mudah unsur – unsur non logam disebelah kanan untuk menarik elektron.

C.    Sifat Karakteristik / Sifat Khas Unsur Periode Ketiga

1.      Sifat asam-basa hidroksida unsur periode ketiga

Semua unsur periode ketiga dapat bereaksi membentuk hidroksida M(OH)x, kecuali argon yang merupakan gas mulia. M adalah unsur periode ketiga selain argon dan x adalah nomor golongan.

Hidroksida-hidroksida dari unsur - unsur periode ketiga dijelaskan sebagai berikut.

􀂊 Hidroksida dari natrium, magnesium, dan aluminium cukup stabil, yaitu NaOH, Mg(OH)2, dan Al(OH)3.

􀂊 Hidroksida dari silikon, fosfor, belerang, dan klor tidak stabil karena melepaskan molekul air. Sifat hidroksida dari unsur periode ketiga dipengaruhi oleh energi ionisasi dari unsur tersebut.

􀂊 Jika energi ionisasi rendah, maka ikatan M–OH bersifat ionik dan hidroksida bersifat basa, dalam air akan melepaskan ion OH–.

􀂊 Jika energi ionisasi tinggi, maka ikatan M–OH bersifat kovalen. Ikatan O–H bersifat polar sehingga ikatan tersebut dapat mengalami hidrolisis dan melepaskan ion H+. Dengan demikian larutannya bersifat asam.

􀂊 Kecenderungan energi ionisasi unsur periode ketiga adalah semakin bertambah dari natrium ke klor. Oleh karena itu sifat basa dari unsur-unsur di sebelah kiri lebi kuat, sedangkan unsur-unsur di sebelah kanan sifat asamnya lebih kuat. Untuk lebih jelas dalam memahami sifat asam-basa hidroksida unsur periode ketiga.

2.      Daya pereduksi dan daya pengoksidasi unsur periode ketiga

Daya pereduksi dan daya pengoksidasi berkaitan dengan kecenderungan melepas atau menyerap elektron. Zat pereduksi (reduktor) merupakan zat yang melepaskan elektron dalam suatu reaksi redoks atau zat yang mengalami oksidasi, sedangkan zat pengoksidasi (oksidator) merupakan zat yang menyerap elektron atau mengalami reduksi.

Dengan demikian, semakin mudah zat melepaskan elektron, maka daya pereduksinya semakin kuat. Sebaliknya, semakin sulit suatu zat untuk melepaskan elektron, maka daya oksidasinya makin kuat. Harga potensial elektrode menyatakan kecenderungan untuk mereduksi dan mengoksidasi reaksi-reaksi yang berlangsung dalam larutan.

 Jika harga potensial elektrodenya semakin positif, maka makin mudah mengalami reduksi. Sebaliknya, semakin negatif harga potensial elektrodenya, makin mudah mengalami oksidasi. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa reduktor kuat mempunyai harga potensial elektrode sangat negatif, sedangkan oksidator kuat mempunyai harga potensial elektrode sangat positif.

D. Manfaat Unsur Periode 3

     Natrium  

     v  NaCl digunakan pengolahan dan pengawetan makanan, mencairkan salju, 

     v  Na-benzoat dipakai dalam pengawetan makanan 

     v  Na-glutamat dipakai untuk penyedap makanan 

     v  NaOH dipakai untuk membuat sabun, deterjen, kertas 

     v  NaHCO3 dipakai sebagai pengembang kue 

     v  Na2CO3 Pembuatan kaca, detergen, pelunak air (air sadah) 

     Magnesium       

     v  Untuk pembuatan paduan alloy (magnalium)

     v  Untuk kerangka

     v  pesawat terbang , lampu kilat dalam fotografi, kembag api

     Aluminium         

     v  Untuk alat-alat dapur, rangka bangunan, badan pesawat terbang, velg ban mobil

     v  Untuk kemasan (kaleng , aluminium foil)

     v  Untuk jaringan tegangan tinggi

     Silikon     

     v  Sebagai semikonduktor, transistor, chip komputer

     v  Untuk pembuatan kaca, gelas,

     v  Sebagai silika gel

     Fosfor     

     v  Untuk pembuatan pupuk asam fosfat dan garamnya

     v  Untuk pembuatan korek api(fosfor merah)

     v  Untuk racun tikus (fosfor putih)

     Belerang

     v  Untuk bahan baku pembuatan asam sulfat 

     v  Dalam industri untuk  pembuatan pupuk, kertas, cat, plastik. 

     v  Untuk obat pemberantas jamur/ obat penyakit kulit

     Klorin      

     v  Untuk pemurnian air, sanitasi limbah industry,kolam renag.

     v  Sebagai bahan dasar industri plastik

     v  Untuk pemutih, pulp kertas dan tekstil , desinfektan, , 

    Argon

    v  Sebagai pengisi bola lampu karena Argon tidak bereaksi dengan kawat lampu 

    v  Sebagai penyambung (las) logam 

    v  Sebagai gas inert atau gas pelindung untuk peralatan laboratorium

    v  Untuk pengisi tabung fluorescence

    v  Sebagai gas pelindung alat-alat kedokteran

Unsur-Unsur Logam Transisi (Periode 4)

Unsur-unsur transisi  pada periode 4, terdiri dari scandium (Sc), titanium (Ti), vanadium (V), krom (Cr), mangan (Mn), besi (Fe), kobalt (Co), nikel (Ni), tembaga (Cu) dan seng (Zn).

Tabel 4.1 Kelimpahan unsur-unsur transisi dan mineralnya

Sesuai dengan pengisian elektron pada subkulitnya, unsur ini termasuk unsur blok d, yaitu unsur-unsur dengan elektron valensi yang terletak pada subkulit d dalam konfigurasi elektronnya.


Konfigurasi elektron Cr bukan (Ar) 3d4 4s2 tetapi (Ar) 3d5 4s1. Demikian halnya dengan konfigurasi elektron Cu bukan (Ar) 3d9 4s2 tetapi (Ar) 3d10 4s1.

Hal ini berkenaan dengan kestabilan orbitalnya, yaitu orbital-orbital d dan s stabil jika terisi penuh, bahkan 1/2 penuh pun lebih stabil daripada orbital lain.

Unsur transisi mempunyai sifat- sifat khas yang membedakannya dari unsur golongan utama, antara lain:

1.      Bersifat logam. Semua unsur transisi tergolong logam karena dengan titik leleh dan titik didih yang relatif tinggi ( unsur – unsur golongan   utama ada yang tergolong logam, metaloid, dan logam).

2.       Bersifat paramagnetik (sedikit tertarik ke dalam medan magnet).

3.      Membentuk senyawa – senyawa yang berwarna (senyawa dari unsur logam golongan utama tidak berwarna).

4.      Mempunyai beberapa tingkat oksidasi (unsur logam golongan utama umumnya hanya mempunyai sejenis tingkat oksidasi).

5.      Membentuk berbagai macam ion kompleks (unsur logam golongan utama tidak banyak yang dapat membentuk ion kompleks).

            Sifat-sifat khas unsur transisi dapat dijelaskan berdasarkan konfigurasi elekronnya. Secara terinci, sifat-sifat unsur transisi periode keempat dijelaskan sebagai berikut.

A.       Sifat Fisis Unsur-unsur Transisi Periode Keempat

     Simak kecenderungan sifat-sifat fisis unsur-unsur transisi periode keempat pada tabel 1 berikut,

Tabel 1. Beberapa Sifat Unsur Transisi Periode Keempat

Sifat

Sc

Ti

V

Cr

Mn

Fe

Co

Ni

Cu

Zn

Jari-jari atom (Å)

1.44

1.32

1.22

1.18

1.17

1.17

1.16

1.15

1.17

1.25

Jari-jari ion X2+(Å)

-

1.00

0.93

0.87

0.81

0.75

0.79

0.83

0.87

0.88

Titik leleh (0C)

1541

1660

1890

1857

1224

1535

1495

1455

1083

420

Titik didih (0C)

2831

3287

3380

2672

1962

2750

2870

2732

2567

907

Massa jenis (g cm-3)

3

4.5

6

7.2

7.2

7.9

8.9

8.9

8.9

7.1

Kekerasan (skala Mohs)

-

-

-

9

5

4.5

-

-

3

2.5

Energy ionisasi (kJ mol-1)

631

658

650

652

717

759

758

737

745

906

Keelektronegatifan

1.3

1.5

1.6

1.6

1.5

1.5

1.8

1.8

1.9

1.6

E0red X2+(aq)(volt)

-

-

-1.2

-0.91

-1.19

-0.44

-0.28

-0.25

+0.34

-0.76

E0red X3+(aq)(volt)

-2.1

-1.2

-0.86

-0.74

-0.28

-0.4

-

-

-

-

 

            Dari tabel sifat keperiodikan di atas, kita dapat simpulkan beberapa sifat atomik dan sifat fisis dari logam transisi :

1.         Sifat Logam

Semua unsur transisi mempunyai sifat logam, sehingga berbeda dengan unsur-unsur utama yang dapat bersifat logam maupun non logam. Sifat itu disebabkan semua unsur transisi memiliki energi ionisasi yang rendah, yaitu kurang dari 1.000 kJ/mol (sehingga mudah membentuk ion positif ) dan keelektronegatifannya rendah yaitu kurang dari 2.

Ditinjau dari konfigurasi elektronnya, hal ini terjadi karena unsure transisi memiliki lebih banyak elektron tidak berpasangan. Elektron ini bebas bergerak pada kisi kristalnya sehingga dapat membentuk ikatan logam yang lebih kuat dibandingkan dengan unsure utama. Akibatnya, sifat kekerasan dan kerapatan logam-logam transisi menjadi lebih tinggi. Akibat lainnya, sifat penghantar listrik lebih baik dibandingkan dengan logam-logam utama.

Demikian pula, harga titik didih dan titik lelehnya relative tinggi (kecuali Zn yang membentuk TD dan TL relative rendah). Semakin banyak elektron yang tidak berpasangan dalam orbital, semakin kuat ikatan logamnya dan semakin tinggi titik lelehnya. Hal ini disebabkan orbital subkulit d pada unsure transisi banyak orbital yang kosong atau tersisi tidak penuh. Adanya orbital yang kosong memungkinkan atom-atom membentuk ikatan kovalen (tidak permanen) disamping ikatan logam. Orbital subkulit 3d pada seng terisi penuh sehingga titik lelehnya rendah. Bandingkan dengan unsure utama yang titik didih dan titik lelehnya juga relative rendah.

Jadi berdasarkan tabel (lihat titik lelehnya), kekuatan ikatan logam cenderung bertambah dari Sc ke V dan berkurang dari Cr ke Zn. Hal ini terjadi karena dari Sc ke V berdasarkan konfigurasi elektronnya semakin banyak elektron yang tidak berpasangan, akibatnya elektron-elektron itu akan bergerak bebas pada kisi kristalnya sehingga membentuk ikatan logam yang kuat. Sedangkan dari Cr ke Zn, elektron mulai berpasangan sehingga kekuatannya semakin berkurang.

Berdasarkan konfigurasi elektron valensinya terlihat bahwa seng tidak memiliki elektron tidak berpasangan. Hal ini mengakibatkan titik leleh seng paling rendah di antara unsur-unsur transisi periode empat

2.         Jari-jari Atom

Nilai jari-jari atom cenderung berkurang dari Sc ke Ni, dan bertambah dari Ni ke Zn. Nilai jari-jari atom dipengaruhi oleh gaya tarik-menarik antara inti dan elektron. Pada logam transisi, elektron yang terlibat tidak hanya dari sub kulit terluar ns, tetapi juga dari subkulit sebelumnya yakni (n-1)d. Hal ini dikarenakan tingkat energi subkulit ns dan (n-1)d yang hampir sama. Penurunan jari-jari atom dari Sc ke Ni terjadi karena meski terdapat lebih banyak elektron di subkulit 3d, namun elektron-elektron ini terikat semakin kuat ke inti. Hal ini dikarenakan muatan inti yang bertambah positif dari kiri ke kanan. Akan tetapi, penurunan jari-jari dari Cr ke Ni tidak terlalu signifikan.

Penjelasannya adalah bahwa elektron-elektron mulai berpasangan sehingga timbul gaya tolak menolak antara kedua elektron berpasangan tersebut, dan gaya tolak menolak ini mampu mengimbangi gaya tarik menarik antara inti dan elektron-elektron. Sementara itu kenaikan jari-jari atom dari Cu ke Zn dikarenakan semua elektron di subkulit 3d telah berpasangan, sehingga gaya tolak menolak antar-elektron lebih besar.

3.         Energi Ionisasi. Energi ionisasi cenderung bertambah dari Sc ke Zn. Walaupun terjadi sedikit fluktuatif, namun secara umum Ionization Energy (IE) meningkat dari Sc ke Zn. Hal ini terjadi karena, dalam upaya mencapai konfigurasi gas mulia, logam transisi akan melepas elektron-elektron di subkulit s dan d-nya. Karena jumlah elektron di subkulit d yang tergolong banyak, maka dibutuhkan energi yang lebih besar untuk melepas elektron-elektron tersebut, sehingaa kecenderungan nilai energi ionisaninya secara umum bertambah dari sc ke Zn.

4.         Kekerasan berkurang dari Cr ke Zn. nilai kekerasan dari Cr ke Zn berkurang dapat dijelaskan dari kekuatan ikatan logam. Ingat ! (Semakin banyak elektron yang tidak berpasangan dalam orbital, semakin kuat ikatan logamnya). Jadi semakin ke kanan kekuatan ikatan logam semakin berkurang karena elektron cenderung berpasangan.

5.         Titik leleh dan titik didih bertambah dari Sc ke V dan kemudian secara umum berkurang dari V ke Zn. Kecenderungan nilai titik leleh dan titik didih menunjukkan kekuatan ikatan logam yang meningkat dari Sc dan v dan kemudian berkurang dari v ke Zn.

6.         Daya hantar listrik dan panas secara umum bertambah dari Sc ke Zn. Daya hantar listrik dan panas pada logam dipengaruhi oleh muatan inti dan jumlah elektron valensi yang dapat bergerak bebas. Secara umum, logam transisi memiliki daya hantar listrik dan panas yang semakin baik dari Sc ke Zn. Hal ini dikarenakan jumlah elektron-elektron valensinya dapat bergerak bebas  bertambah dari Sc ke Zn.

B.        Sifat Kimia Unsur-unsur Transisi Periode Keempat

     Unsur-unsur transisi memiliki sifat kimia yaitu kerektifan dan kelarutan. Unsur-unsur transisi bereaksi lambat dengan air, oksigen dan halogen. Unsur-unsur transisi periode empat kurang reaktif dibanding alkali dan alkali tanah. Kereaktifan yang lemah mengakibatkan unsur transisi tahan terhadap korosi. Korosi terjadi apabila suatu unsur berekasi cepat dengan oksigen dan air. Sementara itu, sebagian besar transisi bersifat larut dalam asam mineral encer.

1.      Kereaktifan

Kereaktifan unsur-unsur transisi periode keempat ditunjukkan dari nilai Potensial reduksi standar (E0) pada tabel berikut.

Tabel 2.  Nilai (E0) dari unsur-unsur transisi periode keempat

 

E0 (volt)

Sc

Ti

V

Cr

Mn

Fe

Co

Ni

Cu

Zn

E0red X2+(aq)(volt)

-

-

-1.2

-0.91

-1.19

-0.44

-0.28

-0.25

+0.34

-0.76

           

            Dari tabel terlihat, secara umum nilai E0 negatif. Hal ini berarti unsur-unsur transisi ini mudah teroksidasi, berarti bersifat reaktif. Namun, kecenderungan ini secara umum berkurang dari kiri ke kanan karena nilai E0 yang bertambah besar. Sehingga kereaktifan cenderung semakin berkurang/rendah. Perkecualian adalah Cu yang memiliki nilai E0 positif yang menunjukkan Cu tidak mudah teroksidasi.

            Kebanyakan logam transisi bersifat inert terhadap asam atau bereaksi lambat karena adanya lapisan oksida pelindung. Salah satu kasusnya adalah kromium ; unsur ini secara kimia sangat inert karena pada permukaannya terbentuk kromium(III) oksida, Cr2O3. Akibatnya, kromium biasa digunakan sebagai pelindung dan pelapis nonkorosif pada logam lain.

C.       Sifat-sifat Karakteristik Unsur-unsur Transisi Periode Keempat

     Unsure transisi periode keempat mempunyai sifat-sifat khas yang membedakannya dari unsure golongan utama. Sifat-sifat khas unsure transisi berkaitan dengan adanya sub kulit d yang terisi penuh.

1.         Sifat Magnet

Perhatikanlah gambar cara mengukur kemagnetan suatu zat dibawah ini!

 

Berdasarkan sifat kemagnetannya, unsur-unsur transisi mempunyai sifat sebagai berikut.

1)      Diamagnetik yaitu dapat ditolak oleh medan magnet.

Sifat ini dimiliki oleh atom, molekul, atau ion yang seluruh elektron pada orbitalnya berpasangan.

2)      Paramagnetik yaitu sedikit dapat ditarik oleh medan magnet.

Sifat ini dimiliki oleh atom, molekul, atau ion yang memiliki elektron yang tidak berpasangan pada orbitalnya.

Unsur-unsur logam transisi pada umumnya memiliki elektron yang tidak berpasangan pada orbital-orbital d. dengan demikian, kebanyakan dari unsur-unsur dan senyawa logam transisi bersifat paramagnetic (tertarik oleh medan magnet) dan bukan bersifat diamagnetik (tidak tertarik oleh medan magnet). Sifat paramagnetik pada unsur-unsur transisi semakin kuat jika jumlah elektron yang tidak berpasangan pada orbitalnya semakin banyak.  

Logam transisi periode keempat yang bersifat paramagnetik antara lain Sc, Ti, V, Cr, dan Mn, sedangkan yang bersifat diamagnetik antara lain Cu dan Zn. Unsur Fe, Co, dan Ni terdapat sedikit keunikan pada sifat kemagnetannya yang disebut feromagnetik. Sifat unik yang dimiliki oleh unsur-unsur ini, meskipun logam feromagnetik ini sudah dijauhkan dari medan magnet, tetapi induksi magnet dari logam ini tidak ikut menghilang, melainkan tetap terkandung dalam logam itu. Hal ini sangat berbeda dari sifat logam paramagnetik yang segera kehilangan induksi magnet ketika dijauhkan dari medan magnet. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa logam ferromagnetic dapat dijadikan magnet permanen, sedangkan logam paramagnetik hanya bersifat magnet jika berada di lingkungan suatu medan magnet.

5.      Banyak di antaranya dapat membentuk ion kompleks

Ion kompleks adalah ion yang terdiri atas atom pusat dan ligan. Biasanya atom pusat merupakan logam transisi yang bersifat elektropositif dan dapat menyediakan orbital kosong sebagai tempat masuknya ligan. Contohnya ion besi (III) membentuk ion kompleks [Fe(CN)6].

6.      Beberapa diantaranya dapat digunakan sebagai katalisator

Salah satu sifat penting unsure transisi dan senyawanya, yaitu kemampuannya untuk menjadi katalis-katalis reaksi-reaksi dalam tubuh. Di dalam tubuh, terdapat enzim sitokrom oksidase yang berperan dalam mengoksidasi makanan. Enzim ini dapat bekerja bila terdapat ion Cu2+. Beberapa logam transisi atau senyawanya telah digunakan secara komersial sebagai katalis pada proses industry seperti TiCl3 (Polimerasasi alkena pada pembuatan plastic), V2O5 (proses kontak pada pembuatan margarine), dan Cu atau CuO (oksidasi alcohol pada pembuatan formalin).

 

D. Manfaat Unsur Periode 4 (Unsur Transisi)

Skandium (Sc)

Alloy aluminium-skandium untuk industri aero angkasa dan peralatan sukan (basikal, bet besbol, senjata api, dan sebagainya) yang memerlukan bahan berprestasi tinggi. 

Titanium (Ti) 

-        Sebagai bahan kontruksi

-        Sebagai badan pesawat terbang dan pesawat supersonik, karena pada temperature tinggi tidak mengalami perubahan kekuatan (strenght). \

-        Sebagai bahan katalis dalam industri polimer

-        Sebagai baham pemutih kkertas, kaca keramik

Vanadium (V)

-        Untuk membuat peralatan yang membutuhkan kekuatan dan kelenturan yang tinggi seperti per mobil dan alat mesin berkecepatan tinggi

-        Untuk alloy tahan karat dan baja untuk peralatan 

-        Sebagai katalis dalam pembuatan asam sulfat

Krom (Cr)    

-        Untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan karat. 

-        Untuk pelapisan logam

-        Untuk katalis 

-        Untuk pewarna gelas. 

-        Sebagai pemberi warna hijau emerald pada kaca

Mangan (Mn)         

-        Untuk panduan logam dan membentuk baja keras yang digunakan untuk mata bor pada pemboran batuan.

-        Sebagai depolariser dan sel kering baterai dan 

-        Untuk menghilangkan warna hijau pada gelas yang disebabkan oleh pengotor besi.

Besi (Fe)      

-        Sebagai bahan utama pembuatan baja. Misalnya baja stainless steel (campuran 72% Fe, 19% Cr, dan 9% Ni). Adapun manfaat baja untuk kontruksi atau rangka bangunan, landasan, untuk badan mesin dan kendaraan, tulkit mobil, untuk berbagai peralatan pertanian, bangunan.

-        Fe(OH)3  digunakan untuk bahan cat seperti cat minyak, cat air, atau cat tembok.

-        Fe2O3 sebagai bahan cat dikenal nama meni besi, dan untuk mengkilapkan kaca.

-        FeSO4digunakan sebagai bahan tinta.

Kobalt (Co)

-        Kobalt yang dicampur dengan besi, nikel, dan logam lainnya untuk membuat alnico

-        Alloy stellit, mengandung kobalt, khromium, dan wolfram, yang bermanfaat untuk peralatan berat, peralatan yang digunakan pada suhu tinggi, maupun peralatan yang digunakan pada kecepatan yang tinggi.

-        Untuk paduan logam (baja kobalt) digunakan sebagai bahan magnet permanen. 

-        Larutan kobalt klorida digunakan sebagai pelembut warna tinta

Nikel (Ni)    

-        Sebagai komponen pemanas listrik (nikrom) yang merupakan campuran dari Ni, Fe, dan Cr. 

-        Perunggu-nikel untuk uang logam. Perak jerman (paduan Cu, Ni, Zn) untuk barang perhiasan.

-        Pembuatan alloy, battery electrode, dan keramik

Tembaga (Cu)        

-        Sebagai peralatan listrik, kabel listrik karena sifatnya yang menghantarkan listrik. 

-        Untuk membuat pipa ledeng. 

-        Alloy tembaga dan emas untuk membuat perhiasan

-        Terusi (CuSO4) untuk larutan elektrolit dalam sel elektrokimia

-        Campuran terusi, Ca(OH)2,  sedikit air untuk  memberantas kutu dan jamur.

Seng (Zn)    

-        Untuk melapisi besi dan baja agar tidak karat.

-        Untuk pembuatan alloy misalnya brazo (tembaga dan zink). 

-        ZnO untuk bahan cat, pemberi  warna putih , pembuatan salep seng (ZnO-vaselin).